*
Istilah
“cantik” dalam argumen singkat ini menunjuk pada kerupawanan paras perempuan
sekaligus laki-laki. Selain karena akan terlalu panjang dan – kata seorang
teman yang bertani kopi di Jatinangor – “tak dapat prosanya” jika memaksakan
menyebut “cantik dan ganteng”, saya juga mencurigai bahwa istilah “ganteng”
atau “tampan” hanyalah bahasa yang dicari-cari saja untuk menemukan padanan istilah
“cantik” untuk laki-laki. Padahal, ketiganya sama-sama menerangkan tentang paras
yang rupawan, atau, menurut Google Translate: “pleasing the senses or mind aesthetically”.
1.
Ada
mitos yang harus diuji (dan dipatahkan jika terbukti keliru) pada setiap
pelabelan (labeling) yang dianggitkan
pada seseorang. Menantang mitos perlu
dilakukan karena saking berurat-akarnya, mitos itu kadung menjadi hegemoni. Pada
hegemoni, terdapat kesadaran palsu serupa kewarasan yang tertutup asap dan terhadapnya,
harus diadakan pengungkapan kebenaran.
Masyarakat,
setidaknya berdasarkan teori pelabelan yang tadi pagi saya pelajari di kelas
Kriminologi dan Viktimologi, adalah entitas yang suka mengambil peran sebagai hakim
dan merasa dirinya paling benar. Dalam perspektif yang sangat strukturalis,
masyarakat diteorikan sebagai suatu struktur pencemburu yang gerah jika melihat
ada seseorang di dalam tubuhnya yang “menyimpang”.



