Tentang

Friday, September 25, 2015

Filsafat Kol Goreng


Seberapa sering anda makan pecel lele atau pecel ayam kaki lima dengan kol goreng? Saya sering sekali.

Sore tadi selepas kelas Sosiologi Hukum, saat sedang nikmat-nikmatnya memamah nasi lele bakar dengan atribut kol goreng, saya terlonjak karena merasa telah berhasil membuat suatu tesis yang tampaknya cukup revolusioner dan mencengangkan. Ternyata, jejak-jejak pemikiran posmo dapat ditemukan bukan di gedung-gedung berarsitektur aneh yang patah-patah dan bengkok-bengkok (yang sering disebut seni-zaman-baru itu), bukan pula di Galaksi Simulacra, buku kumpulan esai Jean Baudrillard yang, Masya Allah, membaca esai pertamanya saja sudah bikin jalinan neuron saya retak-retak. Manusia nusantara menemukan realitas posmo di atas meja makan; dalam konteks saya, realitas posmo itu adalah kol goreng. Bahkan, kalau kol goreng bisa berpikir dan membaca buku, saya lumayan yakin bahwa ia akan kuliah filsafat dan mengidentifikasikan dirinya sebagai seorang Derridean. Sebelum sidang pembaca meninggalkan tulisan ini, saya mau tekankan satu hal: tenang saja, saya bukan Foucault, bukan pula Lyotard, diameter sumsum otak saya yang minimalis juga termehek-mehek membaca teori mereka. Tulisan ini tidak sulit.

Derrida adalah salah satu pemikir penting posmo yang terkenal dengan metode dekonstruksinya. Apa itu dekonstruksi? Akhyar Yusuf Lubis menyebut dalam Postmodernisme: Teori dan Metode, bahwa “dekonstruksi adalah strategi yang digunakan untuk mengguncang kategori-kategori dan asumsi-asumsi dasar di mana pemikiran kita ditegakkan”. Dijelaskan pula bahwa dekonstruksi “menggunakan hermeneutika kecurigaan, dengan mencurigai klaim-klaim kebenaran yang dikemukakan ilmuwan yang ditemukan dalam teks”. Anda paham? Saya pun tak terlalu paham.

Tapi ringkasnya kalau saya coba jelaskan dekonstruksi ini menurut versi saya (yang mungkin sekali kurang tepat), dapatlah saya bilang bahwa dekontstruksi adalah metode untuk menggoyang dan mempertanyakan kembali esensi dan muatan teks yang dianggap sudah-benar-dari-sananya. Kalau mengutip Peter Barry, dekonstruksi adalah “membaca teks dengan melawan teks itu sendiri”. Teks ini juga tidak terbatas pada teks dalam bentuk tertulis yang selama ini kita kenal. Apapun adalah teks apabila dapat dilakukan upaya pemaknaan terhadap hal tersebut. Bangunan teorinya cukup begini saja untuk menerangkan analisis tak penting saya.

***

Saya adalah pengagum berat pecel lele. Meskipun rupanya jelek (legam, licin, berkumis… hiii), dalam seminggu, setidaknya sekali dua kali saya pasti makan pecel lele (juga varian lainnya, lele bakar). Anehnya, pecel lele yang saya rasa enak hanyalah pecel lele yang dijual di kaki lima. Ibu beberapa kali bikin pecel lele di rumah, namun (maafkan saya, Ma) tak pernah seenak pecel lele kaki lima. Pecel lele bikinan ibu jauh lebih higienis, pasti. Sungut lelenya sudah dibuang dan isi perutnya juga dibersihkan secara passionate. Bumbunya pun tidak memakai MSG, pokoknya sudah memenuhi kriteria makanan rumahan sehat menurut Gordon Ramsay. Namun ternyata, untuk menjadi pecel lele yang enak dan dahsyat, seekor lele tak harus diberi treatment se-terhormat treatment yang ibu berikan kepada lele-lelenya itu. Lihat saja lele-lele di kaki lima. Sungutnya tiada dipotong, isi perutnya belum tentu bersih sempurna. MSG? Duh, jangan ditanya.  Pula, entah bumbu rempah apa yang dibenamkan abang-abang pecel lele itu dalam adonannya. “Adonan” dalam kultur per-pecellele-an harus dimaknai secara limitatif sebagai jerigen berisi air keruh berwarna kekuningan (yang diaduk di dalamnya resep rahasia sang masterchef pecel lele) tempat mendiang-mendiang lele berenang-renang. Tidak boleh dimaknai lain. Siapa kira, kombinasi sungut-tak-terpotong, perut-tak-bersih, dan adonan-tidak-humanis itu justru menghasilkan pecel lele-pecel lele dengan rasa paling mumpuni sejagat raya.

Hidangan pecel lele (atau pecel ayam) seyogyanya didampingi dengan dua atau tiga jenis sayur lalapan. Lalapan standar biasanya adalah timun dan kol, kadang ditambah kemangi kalau tukang jualannya memiliki kedermawanan dan kapital berlebih. Asumsi dasarnya adalah, kol dan timun itu dijadikan pelengkap lele untuk menetralisir racun minyak yang becek di lele itu. Harapannya, disamping menelan lele yang digoreng dengan minyak jelantah yang entah pernah diganti atau tidak, timun dan kol itu muncul sebagai penyelamat yang akan mengurangi racun pada si lele. “Nih, saya kasih kol sama timun, biar kamu gak sakit-sakit amat” mungkin begitu yang ada di pikiran tukang jualannya. Tapi, kol hanya dapat melaksanakan tugas mulia-nan-menyehatkan itu apabila ia hadir dalam bentuk segar, yang tidak digoreng.

***

Kemudian, apa hubungan kol goreng yang berwarna coklat, sederhana nan layu dengan skema besar pemikiran Derrida itu? Nah, dari sinilah tesis saya lahir. Kol goreng adalah bentuk nyata dekontruksi Derrida, sebab ia berhasil menghancurkan makna asalinya (sebagai sebuah kol yang berbudi luhur) lalu menciptakan makna baru yang betul-betul jauh dari makna awalnya. Setiap kol goreng adalah kol eksistensialis yang menemukan jalan hidupnya sendiri, meski jalan hidup itu membuat keluarga besar kol sedih karena kol goreng dianggap telah hilang arah dan kehilangan jati diri ke-kol-annya.
Ketika ia jadi kol goreng, maka hancurlah sudah konstruksi kebenaran universal yang terandai-andai dalam kombinasi pecel lele-dan-timun-serta-kol-segar itu. Alih-alih menyegarkan, ia malah mengikuti kompatriotnya, si lele itu. Digoreng di minyak dan wajan yang sama pula. Sayuran yang menyehatkan – namun – digoreng (dengan minyak jelantah super!), oh, dapatkah anda bayangkan bahwa kol goreng adalah dekonstruksi itu sendiri? Pergi ke mana makna menyehatkan yang alamiah dikandung oleh si kol? Sungguh, asumsi kebenaran universal telah patah remuk jungkir balik di hadapan kol goreng yang seorang Derridean itu.

Maka, ketika lain kali anda makan pecel lele dengan kol goreng, meski anda tahu tak ada lagi harapan menjadi sehat pada makanan yang terhidang di hadapan anda, janganlah begitu jumawa. Di depan anda, pada diri kol goreng itu, anda sedang melihat realitas posmo yang terlalu nyata.

Tulisan ini tak sulit, bukan?

*gambar diambil dari Enkivillage

(Pertama kali dimuat di Midjournal)

No comments:

Post a Comment