Tentang

Sunday, October 25, 2015

00:27

untuk pengingat:

Kita betul-betul tak pernah belajar. Kita mengerjap-mengerjap mengeja arah. Amor fati, fatum brutum? Omong kosong! 

Kita tahu apa tentang takdir?

---

apa benar selalu berujung seperti ini:

Kita mungkin tak lebih dari suatu ruang hangat - begitu hangat - yang perlahan-lahan mendingin, mendingin, mendingin, mendingin.......................................................................................... hingga beku habis di minus nol derajat. 

Oh, sungguh jangan sampai.

Tuesday, October 20, 2015

Fajar, Teater, dan Antariksa


Perkenalkan adik laki-laki saya, Fajar. Nama lengkapnya Muhammad Hanif Fajar. Ia  sekarang duduk di kelas 7 SMP. Usianya baru 12 tahun.
           
Memerhatikan adik yang sedang tumbuh dan berkembang itu mengasyikkan. Sabtu dua minggu lalu, saya pulang ke rumah. Kira-kira pukul 12 siang, saya ikut Mama dan Papa pergi menjemput Fajar ke sekolahnya. “Fajar hari ini ekskul (ekstrakurikuler) teater”, kata Mama. Sampai di sekolah, kami menunggu barang setengah jam, Fajar belum selesai dengan ekskulnya. Selesai ekskul, ia menghampiri kami dengan Hilman, seorang temannya, yang hendak menebeng pulang.

Ketika mendengar bahwa adik saya ikut ekskul teater, saya sudah berprasangka terlebih dahulu. Pikir saya, teater macam apa yang bisa anak SMP pentaskan? Pasti bukan teater yang rumit dan sulit. Paling-paling “hanya” drama atau kabaret lucu-lucuan yang naskahnya tak susah dan ringan-ringan saja untuk dipahami anak SMP (maafkan saya telah meremehkanmu, Dik). Saat SMA, kelas saya pernah membuat drama lucu-lucuan untuk keperluan ujian mata pelajaran kesenian. Saya berpikir, kami yang SMA saja konsep dan kemampuannya hanya sampai di drama komedi, apalagi anak-anak SMP ini?

Friday, October 9, 2015

Dua Tesis tentang Cantik


*

Istilah “cantik” dalam argumen singkat ini menunjuk pada kerupawanan paras perempuan sekaligus laki-laki. Selain karena akan terlalu panjang dan – kata seorang teman yang bertani kopi di Jatinangor – “tak dapat prosanya” jika memaksakan menyebut “cantik dan ganteng”, saya juga mencurigai bahwa istilah “ganteng” atau “tampan” hanyalah bahasa yang dicari-cari saja untuk menemukan padanan istilah “cantik” untuk laki-laki. Padahal, ketiganya sama-sama menerangkan tentang paras yang rupawan, atau, menurut Google Translate: “pleasing the senses or mind aesthetically”.

1.

Ada mitos yang harus diuji (dan dipatahkan jika terbukti keliru) pada setiap pelabelan (labeling) yang dianggitkan pada seseorang. Menantang  mitos perlu dilakukan karena saking berurat-akarnya, mitos itu kadung menjadi hegemoni. Pada hegemoni, terdapat kesadaran palsu serupa kewarasan yang tertutup asap dan terhadapnya, harus diadakan pengungkapan kebenaran.

Masyarakat, setidaknya berdasarkan teori pelabelan yang tadi pagi saya pelajari di kelas Kriminologi dan Viktimologi, adalah entitas yang suka mengambil peran sebagai hakim dan merasa dirinya paling benar. Dalam perspektif yang sangat strukturalis, masyarakat diteorikan sebagai suatu struktur pencemburu yang gerah jika melihat ada seseorang di dalam tubuhnya yang “menyimpang”.

Thursday, October 1, 2015

02:23

barangkali
kita
semua
adalah


nonsens    nonsens                                   nonsens        
    nonsens                      nonsens
nonsens nonsens nonsens nonsens
  nonsens          nonsens nonsens nonsens
                  nonsens nonsens
nonsens     nonsens
                           nonsens             nonsens nonsens      nonsens            nonsens
                          nonsens nonsens                                nonsens
        nonsens                nonsens                                    nonsens nonsens   nonsens                               nonsens
                         nonsens                                            nonsens
nonsens              nonsens nonsens 
   nonsens                                                    nonsens  

           nonsens nonsens nonsens nonsens
 nonsens    nonsens                       nonsens   
                              nonsens                                               nonsens
 nonsens                      nonsens  
     nonsens                                    nonsens
 nonsens                    nonsens    nonsens        nonsens                 
      nonsens
        nonsens

           nonsens
             nonsens

               nonsens
                                    nonsens
                                                            nonsens  nonsens nonsens
                                                               nonsens                                  
 

barangkali.

02:09

barangkali
hidup
hanya
pengamatan

barangkali
hidup
hanya
penantian

barangkali
hidup
hanya
permulaan

barangkali
hidup
hanya
lelucon

hidup
hanya
lelucon

barangkali.