Tentang

Tuesday, December 22, 2015

Timbang-timbangan jadi Hakim (juga Tentang Yang Mulia yang Tak Bersemangat)

Saya baru setengah jam sampai di kosan, selepas seharian mengurusi satu perkara dampingan kami di klinik hukum kampus. Siang tadi, kira-kira dari pukul 12.00 hingga pukul 15.00, kami menghabiskan waktu dengan menunggu dan menyimak sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Dari tempat itulah ide awal catatan kecil ini lahir.

Tiap datang ke pengadilan, melihat para terdakwa datang dengan baju koko dan berpeci atau berkerudung sudah jadi pemandangan menarik yang khas (saya tidak hendak jadi tukang vonis akhlak orang di sini). Selain itu, ada juga sketsa khusus lain: lancarkan perhatianmu kepada paras dan raut Yang Mulia Majelis Hakim, dan tampaknya kau segera akan menangkap kesan yang sama seperti yang saya tangkap. Bapak dan ibu hakim yang rata-rata sudah berumur ini tampak mengantuk, tak bersemangat, dan ingin cepat-cepat selesai sidang.

Monday, December 7, 2015

Apakah konsekuensi bertumbuh adalah selalu susah tidur?

Sial, ini sudah pukul 3.05 pagi tapi saya tak tidur-tidur juga. Padahal besok pagi harus ke Rumah Tahanan Pondok Bambu untuk mengganti giliran jaga pos bantuan hukum yang tak saya hadiri minggu lalu gara-gara serangan penyakit linu perut yang asli menyakitkan. Sudah coba tidur dari pukul 01.00 tadi, tapi anak-anak kosan di ruang tengah menyetel Top 40 Billboard keras-keras dan keberisikan kecil yang tak saya harapkan ini berlangsung tak kurang dari satu jam. Kacau, saya tak bisa berkonsentrasi tidur dibuatnya. Lelah memejamkan mata, setengah jam lalu saya hidupkan lampu dan membaca kembali Di Bawah Tiga Bendera, yang khusus saya beli sebagai bacaan persiapan untuk kuliah umum Ben Anderson di FIB UI Kamis ini. Membaca 100 halaman awal buku ini, tak berlebihan kalau saya bilang bahwa analisisnya lincah dan bahan-bahan risetnya menakjubkan. Cuma, kemampuan nalar otak saya yang tak terlalu bisa diandalkan rada kepayahan dalam mengikuti alur narasi yang Anderson sajikan dengan begitu cepat. Dalam satu paragraf dia bisa kutip dan sebut bertumpuk-tumpuk referensi sana sini, entah si Bung yang disertasinya dibimbing Kahin ini dapat bahan riset sekompleks itu darimana. Meski demikian, Di Bawah Tiga Bendera pun kelihatannya gagal membuat saya ngantuk. 

Dan begitulah, karena tak tahu mau apa lagi, iseng saja saya buka laptop dan secara tak diniatkan menulis kabar tak signifikan ini di blog yang telah satu bulan tak saya unggahkan tulisan apa-apa.

Hampir subuh. Saya mau usaha tidur lagi, siapa tahu berhasil.