Tentang

Tuesday, October 20, 2015

Fajar, Teater, dan Antariksa


Perkenalkan adik laki-laki saya, Fajar. Nama lengkapnya Muhammad Hanif Fajar. Ia  sekarang duduk di kelas 7 SMP. Usianya baru 12 tahun.
           
Memerhatikan adik yang sedang tumbuh dan berkembang itu mengasyikkan. Sabtu dua minggu lalu, saya pulang ke rumah. Kira-kira pukul 12 siang, saya ikut Mama dan Papa pergi menjemput Fajar ke sekolahnya. “Fajar hari ini ekskul (ekstrakurikuler) teater”, kata Mama. Sampai di sekolah, kami menunggu barang setengah jam, Fajar belum selesai dengan ekskulnya. Selesai ekskul, ia menghampiri kami dengan Hilman, seorang temannya, yang hendak menebeng pulang.

Ketika mendengar bahwa adik saya ikut ekskul teater, saya sudah berprasangka terlebih dahulu. Pikir saya, teater macam apa yang bisa anak SMP pentaskan? Pasti bukan teater yang rumit dan sulit. Paling-paling “hanya” drama atau kabaret lucu-lucuan yang naskahnya tak susah dan ringan-ringan saja untuk dipahami anak SMP (maafkan saya telah meremehkanmu, Dik). Saat SMA, kelas saya pernah membuat drama lucu-lucuan untuk keperluan ujian mata pelajaran kesenian. Saya berpikir, kami yang SMA saja konsep dan kemampuannya hanya sampai di drama komedi, apalagi anak-anak SMP ini?

Karena keingintahuan yang mendesak, saya kemudian bertanya pada mereka berdua (Hilman juga ambil ekskul teater). “Kita tadi abis latihan buat pementasan bulan Februari, Mas”, ujar mereka saat saya tanyakan mengenai kegiatan mereka hari ini. “Kalian bakal main drama apa buat pentas nanti?”, tanya saya kemudian. “Kita bakal main antara Malam Jahanam atau Bung Besar, Mas. Kita masih pelajarin naskah dua-duanya”, ucap mereka dengan bersemangat dan antusias. Mendengarnya, saya terperangah. Saya terkesan sekali. Malam Jahanam gubahan Motinggo Busye serta Bung Besar bikinan Misbach Yusa Biran jelas bukan drama main-main. Anak-anak SMP ini tak bisa dianggap remeh (mereka sepertinya lebih keren dari kami yang mementaskan drama lelucon waktu SMA itu). Prasangka saya runtuh. Diri yang bodoh ini memang terlalu banyak membuat dugaan-dugaan yang lebih sering keliru daripada benar. 

Setelah sampai di rumah, Fajar bercerita bahwa karena ia masih junior, kemungkinan di pentas nanti ia tak memainkan peran utama (peran utama akan dimainkan oleh seniornya). Saya bilang bahwa itu tak apa. Ia baru kelas 7, waktu belajar di SMP masih panjang. Masih banyak kesempatan untuk mempertajam kemampuan.

Lewat seminggu tak mendengar cerita tentang kehidupan perteateran Fajar, Mama mengabari saya bahwa Fajar sedang sering latihan Bung Besar di rumah. Adik saya kelihatan serius sekali mendalami teater. “Semoga Fajar dapat peran di pentas nanti, Ma”, ucap saya menanggapi kabar dari Mama itu.

Kalau ia serius berlatih teater, siapa tahu ia bisa jadi sehebat Rendra atau Landung Simatupang. Ya, siapa tahu?

---

Selain sebagai anak-baru-namun-antusias di kancah teater, Fajar juga seorang penggemar setia segala hal tentang astronomi. Ia tertarik pada apapun tentang dunia antariksa. Ia suka Gravity, Interstellar, dan The Martian (akan saya ajak menonton 2001: A Space Odyssey kapan-kapan).  

Selain main game dan sesekali membaca buku, ia lumayan sering menghabiskan waktu lowongnya dengan menonton Discovery, National Geographic, atau History. Salah satu acara yang suka kami tonton bareng adalah seri Ancient Aliens. Bagi beberapa orang, teori-teori Ancient Aliens terdengar gila dan mengada-ada. Teori-teori itu sangat sinting kadang: bahwa piramid Mesir dibangun dengan kuasa alien, bahwa mitos naga di Asia Timur sebenarnya adalah bahtera terbang alien, bahwa pada zaman kuno telah ada pesawat jet, serta sederet argumen aneh lain.

Namun bagi kami, pada teori-teori yang memang seringkali lucu itu, dapat ditemukan beberapa argumen yang menarik, juga provokatif. Argumen bahwa dewa-dewi yang hidup di mitologi sebenarnya adalah alien, misalnya. Jika Nietzsche menyebut bahwa tuhan, dewa-dewi, sebagai zat-zat gaib yang memiliki otoritas sangat kuat, adalah hasil olah pikir manusia yang membutuhkan sesuatu untuk ditakuti dan dipertuankan, maka tesis teoritikus Ancient Aliens adalah lain. Mereka mendalilkan mengenai ukiran-ukiran yang lazim ditemukan di artefak, candi, atau lokus penyembahan,  yang menunjuk pada penyembahan kepada dewa-dewi; dewa-dewi tersebut dicitrakan sebagai makhluk-yang-ada-dan-bertahta-di-langit. Bagi teoritikus Ancient Aliens, dewa-dewi itu bukanlah mitos-mitos yang dilahirkan dari pikiran manusia; mereka adalah makhluk yang benar-benar turun dari langit (man from the sky). 

Jadi, daripada menyebut bahwa dewa-dewi itu adalah konsep yang dilahirkan manusia dan diletakkan kedudukannya di langit oleh manusia, teoritikus Ancient Aliens beragumen bahwa makhluk-langit itu memang betul-betul turun dari langi.. Mereka pernah turun ke bumi di masa kuno untuk memberikan revelasi, pencerahan untuk manusia di bumi. Meski belum ada bukti objektif dan empiris untuk membuktikan teori ini, namun tetap saja ia menarik diperbincangkan.

Di ulang tahunnya yang ke 12 tahun di bulan Juli kemarin, saya menghadiahkan beberapa buku bertema astronomi kepadanya. A Brief History of Time dan The Theory of Everything-nya Stephen Hawking (versi terjemahan) serta Ayat-Ayat Semesta-nya Agus Purwanto (buku terbitan Mizan ini bagus sekali – saya sandingkan dengan Stephen Hawking agar argumen sains dan agamanya seimbang). Fajar bilang, buku-buku ini belum ada yang berhasil ia tamatkan. Ia masih berusaha membaca buku-buku itu, akunya, namun tetap saja sulit ia pahami. “Mas, kata tulisan di belakang ini (sambil menunjuk sinopsis A Brief History of Time di sampul belakang), buku ini dapat dibaca siapapun, lah Dek Fajar susah banget ngerti-nya”, ujarnya. Saya tergelak mendengar ucapan jujur itu. Bukankah memang ada buku-buku tertentu yang harus diendapkan beberapa lama di rak buku sampai kita mau dan mampu membacanya?

Perkembangan terakhir mengenai keantariksaan ini, saya dengar dari Fajar kalau ia berkeinginan untuk melanjutkan kuliah ke jurusan Astronomi ITB (Institut Teknologi Bandung). Ia ingin jadi astronom, katanya.

Andaikata dalam perjalanan hidup, passion dan cita-citanya tidak berubah, saya sangat mendoakan agar Fajar dapat masuk Astronomi ITB dan jadi astronom betulan. Sejenius Neil deGrasse Tyson atau Karlina Supelli, mungkin?

---
*gambar di kepala tulisan ditampilkan tidak dengan izin yang bersangkutan, he he he ^^.

3 comments:

  1. Semoga cita-cita Fajar terlaksana, aamiin.. Semangat!

    ReplyDelete
  2. Semoga cita-cita Fajar terlaksana, aamiin.. Semangat!

    ReplyDelete
  3. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete