Tentang

Sunday, July 19, 2015

Politik Identitas Manusia Kinokuniya

Susah sekali rasanya bagi saya untuk mencoba menulis beberapa waktu belakangan. Tulisan ini adalah percobaan saya yang kesekianbelaskali. Begini ceritanya:

Saya baru sampai di rumah dari satu mall di bilangan Jakarta Selatan. Di sana sempat mampir ke Periplus dan Kinokuniya. Saya sedang mencari novel The Keeper of Lost Causes tulisan Jussi Adler-Olsen. Novel ini sudah dijadikan film dan direviu oleh banyak media sebagai film detective/mystery/thriller yang bagus. Saya sudah unduh filmnya, hanya saja tak kunjung saya tonton sebab sayang rasanya kalau film itu ditonton sebelum saya baca bukunya. Goodreads bilang bahwa novel ini cocok dengan penggemar trilogi The Girl with the Dragon Tattoo-nya Stieg Larsson. Well, karena saya penggemar berat The Girl with the Dragon Tattoo, sepertinya saya bakal suka novel ini. Ditambah lagi, The Keeper of Lost Causes juga ditulis olah orang Nordik (Olsen orang Denmark, Larsson orang Swedia). Novel thriller Nordik dikenal selalu atmosferik dan gelap (orang Nordik punya gen melankolik bawaan!), tentu ini membuatnya jadi makin menarik. Dari dua toko buku itu, saya tak temukan satupun kopi novel yang saya cari. "Stoknya sudah habis, Mas", kata mereka. Mungkin nanti saya pesan via toko buku online saja.

Masuk ke Kinokuniya. Gerai buku asal Jepang ini potensinya besar sekali sebagai laboratorium sosial (laboratorium sosial lain masyarakat postmodern Jakarta yang bahkan lebih potensial: Pasar Santa!). Baru dilihat dari perspektif "geopolitik"-nya saja, Kinokinuya ini seperti sudah melakukan klaim kelas. Kita lihat: letak gerainya di satu mall di Jakarta Selatan (inisialnya: Plaza Senayan - sial, saya gagal menulis lokus-lokus anonim) yang dikenal diisi oleh gerai-gerai barang-barang aksesoris yang harganya uber-mahal, yang tidak untuk diakses semua orang. Untuk masuk ke Kinokuniya, kita harus lewat Sogo, merk department store yang juga mengincar kelas menengah ke atas dan dianggap lebih tinggi kelasnya dari department store "biasa". Di depannya, ada gerai Starbucks, yang harga satu cangkir kopinya setara dengan uang makan untuk sehari saya di kampus. Pemosisian ini saya lihat sebagai klaim dan pernyataan: hanya kelas-kelas tertentu yang punya akses ke Kinokuniya. Keadaan geopolitik Kinokuniya ini, sedikit atau banyak disadari oleh (calon) pelanggan Kinokuniya. Masuk ke Kinokuniya (bahkan masuk saja, belum membeli buku) adalah masuk ke suatu helatan pengakuan kelas. 

Saturday, May 16, 2015

Seputar Pertambahan Umur, Buku-buku, dan Keabsurdan

Baru lewat pukul 16.00. Saya telah di rumah sejak Kamis lalu. Kepulangan saya juga disertai dengan tubuh terlanda demam dan flu yang hingga hari ini belum pulih sepenuhnya. Seharusnya saat ini saya mengerjakan satu tugas mata kuliah Hukum Lingkungan. Namun karena mood menulis tugas tak kunjung datang (saya pun lagi tak sehat-sehat amat), daripada saya tidak ada kerjaan, lebih baik saya cerita saja di sini mengenai momen-momen di sekitar pertambahan umur saya (dan saya berjanji kepada diri saya sendiri untuk menyelesaikan tugas itu setelah tulisan ini selesai).

Sepuluh hari lalu saya bertambah umur yang ke 21 (sudah lewat umur 20, apa yang telah saya bikin?). Oci bertambah umur juga pada waktu yang berdekatan (kami hanya beda tiga hari). Hari-hari lewat dengan baik-baik saja. Banyak terjadi hal-hal menyenangkan bahkan: perayaan pertambahan umur dengan Oci; kejutan kue ulangtahun oleh Kelompok Praktek Hukum Pidana saya; dan juri menilai bahwa kelompok Praktek Hukum Pidana kami adalah salah satu yang terbaik. 

Dalam waktu semingguan ini, saya juga berhasil mendapatkan beberapa buku yang pula saya anggap suatu kegembiraan dan keseruan tersendiri. Buku-buku tersebut adalah Taxi Blues (komik dengan cerita dari Seno Gumira, tak terlalu mengesankan), Bukan Pasarmalam-nya Pram (sudah selesai saya baca, ini pertama kali saya tamat membaca Pram setelah tak sempat menyelesaikan Bumi Manusia sekitar tiga tahun lalu), Koong-nya Iwan Simatupang (telah selesai saya baca juga), dan Sebuah Kitab yang Tak Suci-nya Puthut EA (belum selesai saya baca, mungkin nanti saya tamatkan). Terakhir, Rabu lalu, alhamdulillah, saya akhirnya berhasil juga mendapatkan buku "Lahirnya Undang-Undang Dasar 1945" tulisan seorang yang sangat terpelajar, Pak Ananda B. Kusuma. Buku ini memiliki tempat istimewanya sendiri di hati saya. Saya pertamakali mengetahui buku ini pada tahun pertama saya di FHUI, saat itu kami sedang riset tentang dinamika pembahasan mengenai pendidikan saat perumusan UUD 1945 dan buku ini menjadi salah satu referensi utamanya. Sejak saat itu saya selalu ingin memiliki buku ini sebab saya begitu tertarik dengan dialektika pemikiran para Pendiri Bangsa (frasa "the Founding Fathers" terdengar terlalu patriarkik dan falosentrik, bukan?) saat merumuskan Konstitusi. Buku ini beberapa kali ada stoknya di Koperasi Mahasiswa FHUI, namun selalu terlewatkan oleh saya (harganya - kalau tidak salah - Rp. 135.000,00 - selalu tak terjangkau oleh saya).

Sunday, April 5, 2015

Apa itu makna?

Masih pukul 23:02. Malam belum lagi terlalu larut.

Ada hal-hal tak terjawab yang kadang muncul di pikiran saya, beberapa kali saya carikan jawabannya namun sepertinya tetap tak terjawab dengan sempurna. Salah satunya adalah mengenai ketakjuban (atau keheranan?) saya terhadap hubungan antar manusia. Hubungan saya dengan keluarga misalnya. Apa sebenarnya yang membuat seorang manusia menjadi ayah atau ibu kepada manusia lainnya? Bagaimana hubungan yang ideal dan layak antara orang tua dan anak? Mengapa dalam hubungan dalam keluarga ada keharusan untuk bersikap begini dan larangan untuk bersikap begitu? Dari mana lahirnya nilai menghormati orang tua dan menyayangi anak? Apakah manusia pertama yang memutuskan untuk membuat keturunan dan membuat tempat tinggal bersama juga memegang nilai-nilai tersebut? Apakah seorang anak harus mematuhi perintah orang tuanya? Apa sebenarnya anak durhaka itu?

Saya sangat mencintai keluarga saya, dan pertanyaan-pertanyaan ontologis mengenai "Ada"-nya konstruksi hubungan dalam keluarga kerap membuat saya menebak-nebak jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan: Mengapa saya menyayangi orang tua dan adik-adik saya? Dari mana lahirnya kasih sayang? Apa kasih sayang punya akhir? Dari mana datangnya keinginan untuk berkorban? Bagaimana saya memaknai keluarga? Apakah makna itu tetap atau selalu berubah? Apakah makna punya ujung?

Hidup berjalan dengan menyenangkan dan saya merasa baik-baik saja dengan pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Sunday, February 22, 2015

02:27

Saya masih terjaga. Selesai membaca Bab Pengantar pada suatu buku. Apa yang saya cerap dari bab tersebut membuat saya kembali berpikir mengenai hari dan waktu yang saya jejaki. Saya mencoba memahami diri saya sendiri sebagai subjek yang merdeka; dan memerdekakan. Saya adalah subjek yang disusun oleh sebarisan tanda tanya. Saya adalah subjek yang mengupayakan jawaban-jawaban. Saya adalah subjek yang memegang kendali penuh atas pilihan-pilihan dan kemungkinan-kemungkinan yang saya ambil.

Saya adalah saya yang merunut makna ada pada tapak-tapak langkah saya sendiri.

Friday, February 20, 2015

03:48

Pukul 03:48. Saya terjaga. Tubuh saya agak hangat, sisa menerobos hujan dini hari kemarin. Selepas mendengar Ordinary World. Saya bertanya pada diri saya sendiri: apakah setiap jalan (atau kemungkinan) yang saya ambil, selalu menyisakan diri saya terperas habis di akhirnya?

Kemudian saya mendapati diri saya menggumamkan Touche Amore: "when you are searching for brightness you lose concern with the damage done".

Malam selesai.