Tentang

Sunday, February 22, 2015

02:27

Saya masih terjaga. Selesai membaca Bab Pengantar pada suatu buku. Apa yang saya cerap dari bab tersebut membuat saya kembali berpikir mengenai hari dan waktu yang saya jejaki. Saya mencoba memahami diri saya sendiri sebagai subjek yang merdeka; dan memerdekakan. Saya adalah subjek yang disusun oleh sebarisan tanda tanya. Saya adalah subjek yang mengupayakan jawaban-jawaban. Saya adalah subjek yang memegang kendali penuh atas pilihan-pilihan dan kemungkinan-kemungkinan yang saya ambil.

Saya adalah saya yang merunut makna ada pada tapak-tapak langkah saya sendiri.

Friday, February 20, 2015

03:48

Pukul 03:48. Saya terjaga. Tubuh saya agak hangat, sisa menerobos hujan dini hari kemarin. Selepas mendengar Ordinary World. Saya bertanya pada diri saya sendiri: apakah setiap jalan (atau kemungkinan) yang saya ambil, selalu menyisakan diri saya terperas habis di akhirnya?

Kemudian saya mendapati diri saya menggumamkan Touche Amore: "when you are searching for brightness you lose concern with the damage done".

Malam selesai.

Monday, January 26, 2015

Refleksi Pasca Pantura

Pulang

Jumat dini hari lalu, saya baru sampai di rumah setelah perjalanan delapan hari menyusuri kota-kota di Jalur Pantai Utara (Pantura) Pulau Jawa bersama empat orang teman. Kami memulai perjalanan dari Cirebon hingga Surabaya. Pada awalnya, ada rencana untuk mengakhiri perjalanan di Banyuwangi, titik paling timur Pantura. Namun, karena kombinasi dari tipisnya kapital, terbatasnya waktu dan urgennya keperluan mengisi IRS, kami memutuskan untuk tidak melaksanakan ide ini. Jadilah kami memilih Surabaya sebagai perhentian terakhir, yang kami rasa cukup mudah mengakses moda transportasi untuk kembali ke Jakarta di kota itu. Total ada sembilan kota yang sempat kami singgahi, yaitu Cirebon, Tegal, Pekalongan, Semarang, Demak, Kudus, Tuban, Gresik dan Surabaya. Tulisan ini tak saya maksudkan sebagai narasi detail mengenai perjalanan saya, hal yang demikian mungkin akan saya lakukan kemudian hari. Juga, tulisan ini bukanlah catatan kolektif yang merangkum cerita dari pandangan-pandangan kami berlima sebagai pelaku perjalanan.Tulisan ini saya buat setidak-tidaknya untuk keperluan personal saya sendiri; upaya untuk mengekalkan kesan, rasa dan pandangan terhadap tiap-tiap kota yang saya singgahi. Oleh karena sifatnya yang begitu personal, tulisan ini mungkin saja dirasa tak penting oleh pembaca. Tak apa, saya hanya sedang belajar berjalan sedikit jauh dari rumah, dan inilah pertanggungjawaban saya.

Sebermula

Keinginan mengadakan perjalanan kali ini bukan hanya didasarkan atas keinginan berlibur saja; untuk saya pribadi, alasannya jauh lebih penting dari itu. Selama kurang lebih lima bulan sejak pertengahan tahun 2014, saya didera rutinitas dan kehidupan harian yang terus-menerus hadir tak habis-habis. Tahun 2014 bagi saya adalah tahun yang begitu intens, ada banyak momen penting/tidak penting, baik/buruk, mujur/sial, serta terang/gelap yang saya alami. Lebih dari itu, kehidupan sehari-hari saya adalah ruwet dan profannya kota Depok/Jakarta/Tangerang Selatan. Karena saya kost di Depok, tentu saya harus buang jauh-jauh harapan untuk dapat menikmati kota yang tenang dan ramah tiap kali saya lewat di ruas jalan Margonda yang, Demi Tuhan, menyebalkan setengah mati. Di luar lingkaran jumud rutinitas Kampus-UI-Depok, saya sadari bahwa realitas yang saya hidupi adalah realitas kota besar. Sebuah realitas di mana manusia-manusia yang ada di dalamnya tidak memiliki pilihan lain selain mengikuti cepatnya kehidupan metropolitan berputar; kita adalah makhluk eksistensialis setengah-setengah yang tak kuasa melawan perputaran arus kejadian. Saya adalah bagian dari manusia-manusia tersebut. Pula realitas metropolitan yang kita hidupi adalah realitas yang hanya mengenal satu sistem bahasa, yaitu bahasa kapital. Cara kita berbahagia tak lebih dari akal-akalan komodifikasi belaka. Identitas dan eksistensi kita hanya dapat diukur dari kurva perputaran modal dan seberapa tinggi kita bisa menanjaki kelas sosial. Kehidupan metropolitan yang saya hidupi adalah kehidupan yang dibangun di atas realitas yang berlapis-lapis. Padat, silau, sebuah pameran visual yang penuh namun tak ada memiliki kedalaman nilai. Tentu kehidupan yang demikian adalah kehidupan yang perlu dicarikan jalur kabur.

Monday, January 19, 2015

Bunder-Gresik

20.04

Apa gerangan ia yang tersembunyi, di balik gerimis tenang dan malam pucat?

(2015, dari sudut emperan toko di sekitar Bunder-Gresik)