Tentang

Saturday, August 13, 2016

Cerita untuk Y & L

Cerita untuk Y & L, cerita oleh Seno Gumira Ajidarma, gambar oleh Asnar Zacky. Dipindai dari Seno Gumira Ajidarma, Kematian Donny Osmond, (Gramedia: Jakarta, 2001), hlm. 28-32. 

Menurut saya, kisah ini menjadi relevan ketika wacana full day school dimunculkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Jiwa anak-anak perlu dirawat dengan kesenangan bermain. Mereka dapat memancing bintang, mencomot rembulan, atau menangkap Pokemon.

Semoga kisah ini juga menyenangkan bagi anak kecil dalam masing-masing diri kita.

Wednesday, August 10, 2016

Toko-Toko Buku Bekas di Tangerang Selatan yang Perlu Kamu Datangi

Mengubek-ubek toko buku bekas itu asyik, sebab kita tidak pernah tahu buku apa yang akan kita temukan. Pengalaman blusukan di toko fisik berbeda dengan pengalaman mencari buku di toko daring. Di toko fisik, ada ritual yang kita nikmati: penyibakan deret demi deret atau tumpuk demi tumpuk buku, untuk menemukan buku yang kira-kira sesuai dengan selera kita. Di toko daring, kita mencari suatu buku yang spesifik; artinya, judul buku itu sudah tertentukan sebelumnya. Memang, karakteristik ritual di toko fisik itu bisa saja kita cangkokkan ke ritual di toko daring. Kita tetap bisa merasakan nuansa penyibakan dengan menelusuri satu demi satu koleksi buku di suatu toko daring, kalau mampu bahkan hingga sampai halaman terakhirnya. 

Meski demikian, pengalaman dan kenyataan yang mengemuka dalam proses pencarian buku di toko daring tidak akan lebih nyata daripada pencarian di toko yang betul-betul "nyata". Toko daring memudahkan kita dengan daftar judul buku dan nama pengarang yang sudah tersusun rapi, sementara di toko fisik kita jarang mendapatkan kemudahan itu. Di toko daring, kita tertolong dengan fitur "Pencarian Buku", tinggal masukkan nama pengarang atau judul buku, hasilnya langsung keluar. Tidak demikian dengan toko fisik. Banyak penjaga toko fisik yang tidak hapal buku-buku apa saja yang dijual di tokonya, sehingga ia tak dapat membantu untuk mencarikan buku dengan judul anu yang ditulis oleh pengarang anu. Ujung-ujungnya harus kita sendiri yang aktif mencari. 

Juga, koleksi buku di toko daring biasanya dipajang rapi dengan foto dan deskripsi ringkas, sedang koleksi buku di toko fisik seringkali disusun atau ditumpuk secara asal-asalan. Di beberapa toko fisik malah koleksinya sudah berdebu karena lama tak ada yang menyentuh. Kondisi-kondisi ini membuat pengalaman mencari buku di toko fisik jauh lebih seru daripada di toko daring. Selain hasil temuannya lebih tak terduga, pencarian buku di toko fisik lebih melibatkan gerak tubuh, berbeda dengan pencarian di toko daring yang hanya melibatkan jari dan mata. Bagi saya, pengalaman mengubek-ubek toko fisik terasa lebih utuh; ke-berada-an kita ikut melebur masuk ke dalam buku-buku yang kita sibak.

Sunday, July 31, 2016

Jakarta, Rembulan, dan Keterasingan (Esai oleh Seno Gumira Ajidarma)

Sejak tahun '60-an, Jakarta sudah menjadi kota yang mengasingkan manusia.

Sobron Aidit, suatu ketika di tahun 1954, menulis sajak. Saya kutipkan selengkapnya:
Bulan berlayar, hatiku hambar
Malam begini malam berbisa
Karena aku bukan di tempatnya
Dan dada rasa terbakar.

Bulan terang di Jakarta
Sedang hati jauh menyisih
Mencari ibu dan kekasih
Di pagi hijau terlontar menemu duka

Di sini beginilah aku
Tidak punya pangkalan
Buat menambat pilu.

Terdiam, berjalan, menghilang
Tanpa menemu hakekat
Sedang perhitungan sudah berbilang.
Sajak itu berjudul Malam Terang di Jakarta. Dari sebuah sajak, ternyata kita bisa menghayati jiwa sebuah kota, dan segera kita lihat bahwa Jakarta dalam pandangan aku-lirik memang terang. Namun dalam ke-terang-annya itu, kita baca baris-baris yang menunjukkan bahwa manusia dalam kota itu tidaklah seterang apa yang visual. Pada bait pertama terbaca baris: aku bukan di tempatnya; bait ke dua: hati jauh menyisih; bait ke tiga: tidak punya pangkalan; dan bait ke empat: tanpa menemu hakekat. Segalanya menjadi asing di Jakarta, manusia terasing di kotanya sendiri, meski di kota seperti Jakarta kalkulasi profesional berlangsung dengan cermat: sedang perhitungan sudah berbilang.

Tuesday, July 26, 2016

Tentang Kematian, Tobil, dan Kesimpulan

Saya sebenarnya cuma mau bicara tentang pengalaman saat membikin skripsi, namun, agar tulisan ini sedikit lebih berisi, saya perlu mengutip kisah singkat tentang Pak Sastro. Pak Sastro adalah tokoh utama dalam Kooong, novel karangan Iwan Simatupang. Ia adalah orang baik namun bernasib murung. Istrinya meninggal akibat diterjang banjir dari waduk desa yang jebol saat ia sedang menjemur padi. Pak Sastro tak ikut mati saat itu, sebab kebetulan ia sedang pergi ke luar kota. Amat, anak laki-laki Pak Sastro, memutuskan untuk pergi ke Ibukota bersama pemuda-pemuda desa yang berhasil selamat dari banjir. Satu kematian lewat, satu kematian datang merundung. Amat mati dilindas lokomotif langsir di dekat Stasiun Senen. Kata masinis kereta api - yang menggilas Amat - kepada Pak Sastro (diceritakan bahwa mereka memang betulan bertemu), 
"Semua orang melihat, si Amat itulah yang salah. Lokomotif lagi mendengus-dengus di hadapan hidungnya, tahu-tahu dia nyelonong menyeberang jalan. Ini bukan salah lagi namanya, tapi perbuatan nekad. Ya! Aku malah makin cenderung berpendapat, perbuatan si Amat itu perbuatan yang disengaja."
Si Amat mati bunuh diri, batin Pak Sastro. Ia berjalan terhuyung-huyung, hatinya remuk, pikirannya  sibuk,
"Hm! Jadi, si Amat nekad. Mengapa? Apa dia sudah tak ingat lagi pada ajaran-ajaran yang diperolehnya dari guru mengaji di desa dulu? Tidakkah dia tahu, Tuhan melarang perbuatan nekad? Putus asa? Bunuh diri?"
Terhadap kematian Amat dan persepsi Pak Sastro, ada pertanyaan-pertanyaan yang dapat dilayangkan. Beberapa mungkin tidak terjawab dengan meyakinkan, salah satunya adalah: "Layakkah kita menilai manusia hanya dari cara ia mati?".

Tuesday, July 5, 2016

Tunggu punya tunggu

Lusa lebaran
Sidang skripsi minggu depan, kurang lebih
Pukul empat subuh ini sahur terakhir; kau jangan lupa bangun.