Mengubek-ubek toko buku bekas itu asyik, sebab kita tidak pernah tahu buku apa yang akan kita temukan. Pengalaman blusukan di toko fisik berbeda dengan pengalaman mencari buku di toko daring. Di toko fisik, ada ritual yang kita nikmati: penyibakan deret demi deret atau tumpuk demi tumpuk buku, untuk menemukan buku yang kira-kira sesuai dengan selera kita. Di toko daring, kita mencari suatu buku yang spesifik; artinya, judul buku itu sudah tertentukan sebelumnya. Memang, karakteristik ritual di toko fisik itu bisa saja kita cangkokkan ke ritual di toko daring. Kita tetap bisa merasakan nuansa penyibakan dengan menelusuri satu demi satu koleksi buku di suatu toko daring, kalau mampu bahkan hingga sampai halaman terakhirnya.
Meski demikian, pengalaman dan kenyataan yang mengemuka dalam proses pencarian buku di toko daring tidak akan lebih nyata daripada pencarian di toko yang betul-betul "nyata". Toko daring memudahkan kita dengan daftar judul buku dan nama pengarang yang sudah tersusun rapi, sementara di toko fisik kita jarang mendapatkan kemudahan itu. Di toko daring, kita tertolong dengan fitur "Pencarian Buku", tinggal masukkan nama pengarang atau judul buku, hasilnya langsung keluar. Tidak demikian dengan toko fisik. Banyak penjaga toko fisik yang tidak hapal buku-buku apa saja yang dijual di tokonya, sehingga ia tak dapat membantu untuk mencarikan buku dengan judul anu yang ditulis oleh pengarang anu. Ujung-ujungnya harus kita sendiri yang aktif mencari.
Meski demikian, pengalaman dan kenyataan yang mengemuka dalam proses pencarian buku di toko daring tidak akan lebih nyata daripada pencarian di toko yang betul-betul "nyata". Toko daring memudahkan kita dengan daftar judul buku dan nama pengarang yang sudah tersusun rapi, sementara di toko fisik kita jarang mendapatkan kemudahan itu. Di toko daring, kita tertolong dengan fitur "Pencarian Buku", tinggal masukkan nama pengarang atau judul buku, hasilnya langsung keluar. Tidak demikian dengan toko fisik. Banyak penjaga toko fisik yang tidak hapal buku-buku apa saja yang dijual di tokonya, sehingga ia tak dapat membantu untuk mencarikan buku dengan judul anu yang ditulis oleh pengarang anu. Ujung-ujungnya harus kita sendiri yang aktif mencari.
Juga, koleksi buku di toko daring biasanya dipajang rapi dengan foto dan deskripsi ringkas, sedang koleksi buku di toko fisik seringkali disusun atau ditumpuk secara asal-asalan. Di beberapa toko fisik malah koleksinya sudah berdebu karena lama tak ada yang menyentuh. Kondisi-kondisi ini membuat pengalaman mencari buku di toko fisik jauh lebih seru daripada di toko daring. Selain hasil temuannya lebih tak terduga, pencarian buku di toko fisik lebih melibatkan gerak tubuh, berbeda dengan pencarian di toko daring yang hanya melibatkan jari dan mata. Bagi saya, pengalaman mengubek-ubek toko fisik terasa lebih utuh; ke-berada-an kita ikut melebur masuk ke dalam buku-buku yang kita sibak.