Tentang

Tuesday, July 5, 2016

Tunggu punya tunggu

Lusa lebaran
Sidang skripsi minggu depan, kurang lebih
Pukul empat subuh ini sahur terakhir; kau jangan lupa bangun.

Monday, June 20, 2016

Belajar Cara Belajar dari Ahmad Wahib

Saya tak pernah punya jawaban yang pasti dan meyakinkan ketika dihadapkan pada pertanyaan "Mengapa dan untuk apa kamu belajar?". Catatan harian Ahmad Wahib ini, memberikan jawaban yang fasih nan terang terhadap pertanyaan itu:

Yang Penting Bagiku adalah Dialog

Aku adalah orang yang kurang banyak membaca, sehingga banyak sekali istilah-istilah ilmiah yang tak aku kuasai dalam mengungkapkan isi pikiran. Hal ini, untuk sebagian disebabkan karena pendidikan sekolah yang kutempuh selama ini berada di luar lingkaran ilmu pengetahuan sosial, selain sebagian juga disebabkan oleh penguasaan bahasa Inggeris - apalagi bahasa asing lainnya - yang sangat kurang. Literatur-literatur asing sedikit sekali yang bisa kubaca dan itulah sebagian sebabnya, metodologi keilmuan tidak saya kuasai dengan baik. Aku tidak memiliki modal ilmu. Yang kumiliki hanyalah nafsu atau emosi untuk berfikir terus mencari kebenaran dan berusaha terus menegakkan kejujuran dan kebaikan. Karena itulah pikiran-pikiran yang kukumpulkan dalam tulisan-tulisan lebih banyak sebagai suatu analisa ilmiah. Kebanyakan dari isi pikiranku adalah sekedar hasil dari renungan-renungan sewaktu makan, tiduran, naik sepeda, jalan kaki sepanjang jalan raya, nonton filem, naik spur dan lain-lain tanpa suatu basis ilmu yang memadai.

Janganlah anda tanya padaku bagaimana tentang isi sebuah buku yang baru selesai kubaca. Aku tidak pernah ingat dengan baik akan isinya dan aku memang tidak pernah berusaha mengingatnya, walaupun aku bukanlah orang yang merasa tidak beruntung mengingatnya. Syukurlah kalau kebetulan masih ada yang teringat dan tidak apalah bila telah melupakannya semua. Yang penting bagiku adalah dialog yang terjadi antara aku dan pengarangnya sewaktu tulisan itu kubaca. Aku buka pintu hati dan otakku selebar-lebarnya untuk memperoleh pengaruh dari pengarang itu di samping sekaligus aku berusaha menyaringnya dengan cermat. Aku ingin bahwa dialog dengan buku-buku itu tidak hanya menambah pengetahuanku tapi lebih-lebih lagi membantu dan mempengaruhi sikap hidupku. karena itu aku selalu berusaha mencerna, menyaring, mengkritik dan meresapinya agar dia berjabat tangan lebih erat dengan pikiran-pikiran dan kepribadian yang sudah ada dan menyempurnakannya. Akupun berusaha, terlebih-lebih lagi, membentuk dan mengolahnya agar yang sudah ada dan baru datang itu bersenyawa dan menyatu secara serasi dan menemukan suatu bentuk pengungkapan baru yang segar sesuai dengan penghayatan-penghayatan dalam diriku. Dan yang paling penting adalah usahaku bahwa dialog dengan pikiran-pikiran pengarang itu akan mengantarkan aku pada kebenaran-kebenaran baru yang lebih tinggi. Sikap-sikap seperti ini kulakukan pula bila aku mengikuti diskusi, mendengarkan ceramah, berdebat atau menghadiri seminar-seminar. Aku sangat bersedih hati bila setelah selesai diskusi, berdebat, ceramah atau seminar, aku tidak punya waktu untuk merenungi apa-apa yang baru lewat itu dengan baik dan leluasa. Sebab hanya dengan merenung dan merenung, apa yang aku lihat, dengar dan rasakan dalam peristiwa-peristiwa itu akan bisa menjelma secara serasi dalam diriku sebagai suatu kesatuan dan membantu mempermatang kepribadianku, dan menambah ilmuku bukan sebagai kumpulan potongan-potongan tapi sebagai suatu kebulatan sistem.

Aku berusaha mencerna, mencoba dan mengasah terus agar apa yang sudah ada itu makin lama makin padat dan bulat, agar tecapailah suatu gambaran diri yang konsisten.
8 Februari 1970

Tuesday, December 22, 2015

Timbang-timbangan jadi Hakim (juga Tentang Yang Mulia yang Tak Bersemangat)

Saya baru setengah jam sampai di kosan, selepas seharian mengurusi satu perkara dampingan kami di klinik hukum kampus. Siang tadi, kira-kira dari pukul 12.00 hingga pukul 15.00, kami menghabiskan waktu dengan menunggu dan menyimak sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Dari tempat itulah ide awal catatan kecil ini lahir.

Tiap datang ke pengadilan, melihat para terdakwa datang dengan baju koko dan berpeci atau berkerudung sudah jadi pemandangan menarik yang khas (saya tidak hendak jadi tukang vonis akhlak orang di sini). Selain itu, ada juga sketsa khusus lain: lancarkan perhatianmu kepada paras dan raut Yang Mulia Majelis Hakim, dan tampaknya kau segera akan menangkap kesan yang sama seperti yang saya tangkap. Bapak dan ibu hakim yang rata-rata sudah berumur ini tampak mengantuk, tak bersemangat, dan ingin cepat-cepat selesai sidang.

Monday, December 7, 2015

Apakah konsekuensi bertumbuh adalah selalu susah tidur?

Sial, ini sudah pukul 3.05 pagi tapi saya tak tidur-tidur juga. Padahal besok pagi harus ke Rumah Tahanan Pondok Bambu untuk mengganti giliran jaga pos bantuan hukum yang tak saya hadiri minggu lalu gara-gara serangan penyakit linu perut yang asli menyakitkan. Sudah coba tidur dari pukul 01.00 tadi, tapi anak-anak kosan di ruang tengah menyetel Top 40 Billboard keras-keras dan keberisikan kecil yang tak saya harapkan ini berlangsung tak kurang dari satu jam. Kacau, saya tak bisa berkonsentrasi tidur dibuatnya. Lelah memejamkan mata, setengah jam lalu saya hidupkan lampu dan membaca kembali Di Bawah Tiga Bendera, yang khusus saya beli sebagai bacaan persiapan untuk kuliah umum Ben Anderson di FIB UI Kamis ini. Membaca 100 halaman awal buku ini, tak berlebihan kalau saya bilang bahwa analisisnya lincah dan bahan-bahan risetnya menakjubkan. Cuma, kemampuan nalar otak saya yang tak terlalu bisa diandalkan rada kepayahan dalam mengikuti alur narasi yang Anderson sajikan dengan begitu cepat. Dalam satu paragraf dia bisa kutip dan sebut bertumpuk-tumpuk referensi sana sini, entah si Bung yang disertasinya dibimbing Kahin ini dapat bahan riset sekompleks itu darimana. Meski demikian, Di Bawah Tiga Bendera pun kelihatannya gagal membuat saya ngantuk. 

Dan begitulah, karena tak tahu mau apa lagi, iseng saja saya buka laptop dan secara tak diniatkan menulis kabar tak signifikan ini di blog yang telah satu bulan tak saya unggahkan tulisan apa-apa.

Hampir subuh. Saya mau usaha tidur lagi, siapa tahu berhasil.

Sunday, November 1, 2015

00:49

Memikirkan dunia orang dewasa, dunia pasca kampus yang disesaki ketakpastian macam "Sekarang, apa lagi?" atau "Mau kerja apa saya?" (dan terkadang bayang-bayang rencana berumah tangga) membuat saya pening.

Syukurlah, saat ini saya hanya butuh sarapan dan perasaan tak ditinggalkan.