Tentang

Wednesday, September 7, 2016

Tentang Penulisan Esai: Pelajaran dari Simulakra Sepakbola

Saya bukan orang yang menggilai sepakbola. Paling-paling, dulu saat masih SD, saya sempat tertarik dengan AC Milan. Penyebabnya remeh: Ibu membelikan saya selimut, handuk, dan jam dinding bergambar logo AC Milan. Begitu saja. Tak ada ikatan emosi yang luhur, semua hanya kebetulan. Selebihnya, saya ingat pernah beberapa kali main Winning Eleven dan Pro Evolution Soccer, serta ikut bertanding futsal saat SMP-SMA. Di luar itu, sepakbola dan saya tak pernah saling bertamu.

Beberapa waktu lalu, keadaan hubungan kami (sepakbola dan saya) yang dingin itu dihangatkan oleh buku kumpulan esai Zen Rachmat Sugito, Simulakra Sepakbola (Indie Book Corner, 2016). Zen adalah pendiri dan editor Pandit Football, situs penyedia artikel-artikel segar mengenai sepakbola, yang sayangnya tak terlalu saya mengerti (maklum, bekal epistemologis saya terkait wawasan persepakbolaan sangat lemah, kalau tidak bisa dikatakan kosong sama sekali). Zen adalah penulis esai yang handal; saya cukup rutin membaca esai-esainya sejak 2012. Saya lupa judul esai Zen yang pertama kali saya baca, namun, yang pasti, sejak pembacaan pertama itu saya jadi senang mengikuti publikasi esai-esai terbaru Zen. Sekarang, selain memublikasikan tulisannya di banyak media, baik cetak maupun daring, Zen aktif menulis di blog Kurang Piknik. Dulu, Zen pernah juga menulis di blog Pejalan Jauh yang tampaknya sudah tidak ia perbarui lagi.
 
Simulakra Sepakbola sendiri berisi 25 esai, yang jika ditarik benang merahnya, berkisar di antara dua tema: pertama, cerita-cerita tentang persentuhan Zen dengan sepakbola; serta kedua, analisis mengenai hal-hal seputar sepakbola dengan menggunakan banyak perspektif/teori yang tidak pernah dipakai oleh komentator pertandingan sepakbola di televisi manapun. 

Sejujurnya, saya lebih suka membaca esai-esai Zen tentang sejarah, sastra, filsafat, dan sosial-politik, daripada esai-esainya tentang sepakbola (belakangan, seusai menamatkan Simulakra Sepakbola, saya baru mengetahui bahwa justru esai-esai sepakbola Zen selalu berkaitan dengan perspektif sejarah, sastra, filsafat, dan sosial-politik). Mungkin itu yang membuat saya tak banyak membaca esai-esai Zen di Pandit Football. Tadinya, saya berasumsi bahwa esai-esai Zen yang bukan-tentang-sepakbola lebih dapat saya akses dan pahami, sebab konteks narasinya lebih terbuka dan mondial; tidak seperti esai-esai tentang-sepakbola, suatu tema spesifik yang tak saya kuasai. Tentang sepakbola itu, saya sadar bahwa saya tidak paham konteks; tak tahu-menahu tentang pemain A, klub C, taktik permainan H, atau sejarah pertandingan K. Prasangka-prasangka tersebut tetap menggelantungi saya saat hendak membeli Simulakra Sepakbola. Tetapi, saya pikir, meskipun temanya tentang sepakbola, penulisnya adalah Zen RS! Karena itu, walau ada kemungkinan saya tak mampu menikmati Simulakra Sepakbola secara keseluruhan, buku ini tetap haram dilewatkan. Setelah membaca tiga-empat esai dalam Simulakra Sepakbola, saya tahu bahwa prasangka-prasangka itu keliru. 

Simulakra Sepakbola adalah buku kumpulan esai yang sukses; ia dapat mengambil hati segala jenis pembaca. Esai-esai di dalam Simulakra Sepakbola unggul secara teknik penulisan. Menurut saya, Simulakra Sepakbola, secara halus dan tak langsung, memaparkan banyak pelajaran tentang menulis esai dengan baik. Saya akan coba menguraikan beberapa pelajaran mengenai penulisan esai yang saya dapat dari Simulakra Sepakbola.

*** 

Pelajaran pertama: tak ada pengalaman personal yang terlalu sepele untuk diceritakan. Ini ditunjukkan Zen pada lima esai pertama dalam Simulakra Sepakbola, yang memang mengisahkan persinggungan Zen dengan dunia sepakbola. Pada lima esai itu, Zen mengedepankan penceritaan dengan pendekatan personal. Dalam Sepatu Bola Pertama, Zen sama sekali tidak bercerita yang muluk-muluk: "hanya" tentang sepatu bola pertama yang ia punya. Meski demikian, esai ini terasa hidup dan meriah. Pembaca seperti diajak ikut menyaksikan Zen kecil yang mengelus-elus sepatu bola pertamanya, kemudian berjalan menenteng sepatu itu ke lapangan bola selepas salat Ashar. Zen mengisahkannya dengan menggambarkan secara terperinci mengenai rupa sepatu bola pertamanya; juga tentang kaki mana yang ia pakai ketika pertama kali menendang bola dengan memakai sepatu itu. Hasilnya, esai ini mampu meneguhkan imaji kesenangan masa kanak-kanak yang sederhana di kepala masing-masing pembaca. 

Kemudian, dalam Malam Terang di GBK, pembaca ditarik Zen ke suasana di seputar Gelora Bung Karno (GBK) saat pertandingan semifinal kedua antara Indonesia vs Filipina di Piala AFF 2010. Zen, setelah bersama temannya menyebarkan zine PLAK! di sekitar GBK dan bersitegang berkali-kali dengan orang-orang Nurdin Halid, mendapati dirinya tak dapat masuk ke dalam GBK sebab kehabisan tiket. Kabar baiknya, Indonesia menang pada pertandingan hari itu. Tulis Zen, "Saya memang tidak masuk ke stadion, tapi saya sudah terlibat dan melibatkan diri dalam festival sepakbola ini. Saya sangat menikmatinya." Sepakbola baginya adalah karnaval; dan jouissance (kenikmatan) adalah emosi yang sepatutnya lahir dari karnaval itu.  

Ketika Zen bercerita tentang dirinya, pembaca tidak dibawa dari "waktu ke waktu" melainkan "dari suasana ke suasana". Perasaan-perasaan kuat yang muncul di diri pembaca itu tentu dihasilkan dari kepiawaian Zen dalam membangun kisah; di sini juga ada faktor jam terbang Zen yang sudah menulis selama bertahun-tahun. 

Setidaknya, dari esai-esai personal Zen, saya jadi percaya bahwa cerita yang sifatnya personal, jika ditulis secara baik dan tepat, tetap bisa dibaca dan dimaknai oleh khalayak banyak. Cerita tentang manusia, baik yang kecil maupun besar, selalu punya makna; tidak ada cerita yang tidak penting untuk diceritakan. 

Pelajaran kedua: seorang penulis tidak akan bisa menulis apa-apa jika ia tidak membaca apa-apa. "Leer es más importante que escribir," kata Roberto Bolano. Artinya: membaca adalah lebih penting daripada menulis. Zen, dalam Simulakra Sepakbola, juga dalam banyak esai-esainya yang lain, adalah eksemplar in optima forma dari pernyataan ini. Malah, daging dari tubuh tulisan-tulisan Zen adalah pengetahuan-pengetahuan yang didapatnya dari proses membaca. Bagi saya, esai-esai Zen menunjukkan dua hal yang diperlukan untuk membuat esai yang menawan, padat, serta informatif: pertama, kepekaan dalam merefleksikan diri dengan dunia yang bergerak di sekitar; dan kedua, kegigihan dalam meriset literatur yang berkaitan dengan topik tulisan. Mari kita ambil beberapa esai dalam Simulakra Sepakbola sebagai contoh. 

Pada esai Simulakra Sepakbola, Zen menilik pengalaman menikmati pertandingan sepakbola sebagai tayangan (melalui media layar) dan tontonan (menonton langsung di stadion) dengan perspektif simulakra Baudrillardian, salah satu teori penting dalam posmodernisme. Sekaligus di dalamnya, Zen membahas cerita pendek Borges, Esse est Percipi. Selain itu, Zen juga mengutip esai Shaj Matthews, buku Fernando Sorrentino, serta penelitian Jonathan Bloomfield.   

Lalu, dalam Bertukar Tangkap dengan Lepas, Zen membahas "pencomotan" dan "penerjemahan" bahasa asing yang berasal dari bangsa penjajah ke dalam dinamika sosial-politik bangsa terjajah, dihubungkan dengan bahasa sepakbola Indonesia. Zen membuka esai ini dengan mengutip Sartre, kemudian menceritakan polemik Agus Salim yang ngotot berbahasa Melayu di depan sidang Volksraad. Selanjutnya, Zen memacakkan tulisan Anthony Reid dalam Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450-1860: Tanah di Bawah Angin, Takasih Shiraishi dalam Zaman Bergerak, lalu mengutip desakan Jean Marais kepada Minke dalam Anak Semua Bangsa, dan terakhir menceritakan tentang masuknya sepakbola ke Indonesia beserta penyerapan istilah-istilah asingnya.  

Kemudian, dalam Hantu Sejarah Bernama Fergie, Zen menghubungkan sejarah kepelatihan Manchester United dengan pendekatan-sejarah Nietzschean. Atau, dalam Pragmatisme Sepakbola dan Serangan Balik sebagai Keindahan yang Lain, Zen coba mengaitkan alam pikiran Otto Rehhagel dengan pemikiran filsuf utama aliran pragmatisme, William James.  

Esai-esai di atas menampakkan daftar referensi yang dibaca oleh Zen dalam menuliskan suatu esai; daftar yang betul-betul panjang dan ekstensif. Hebatnya, Zen dapat menjahit pemikiran-pemikiran yang didapatnya dari banyak referensi tersebut menjadi esai dengan logika yang ketat dan sistematis. Hal-hal yang sebelumnya seperti tidak berhubungan, dibuat Zen menjadi saling menopang bangunan logika dalam esainya. Dari kutipan yang berlimpah itu, seorang pembaca yang perhatian dan rajin dapat mengambil satu-dua nama pemikir atau judul buku yang menarik baginya, untuk kemudian dapat melakukan pembacaan lebih lanjut terhadap pemikir atau buku itu.  

Selain itu, dari empat esai di atas, saya kemudian mendapatkan pelajaran ketiga: bobot kesegaran suatu esai dilihat dari kecerdikan penulis dalam memandang sesuatu yang ingin ditulis (perspektif). Kecerdikan itu juga terlihat, misalnya, pada Kesebelasan Para Bapak Bangsa. Dalam esai ini, Zen menyusun suatu kesebelasan yang berisi mulai dari RM Tirto Adhi Soerjo, Tjokroaminoto, Douwes Dekker, hingga Soekarno-Hatta. Setiap tokoh dijelaskan perannya bagi Indonesia, lengkap dengan posisinya masing-masing di kesebelasan. Tentu, posisi itu juga ditentukan berdasarkan karakter masing-masing tokoh. Wah, esai yang segar dan cerdik benar. 

Kepandaian memilih perspektif itu, menurut saya, berhubungan dengan pelajaran keempat: intertekstualitas dapat digunakan di tulisan apa pun, bahkan ia dapat menjadi faktor penentu kekerenan suatu tulisan. Istilah "intertekstualitas" pertama kali disebut oleh Julia Kristeva, seorang ahli semiotik. Secara singkat, intertekstualitas bermakna perhubungan pemaknaan suatu teks berdasarkan teks lain. "Teks" di sini mencakup tidak hanya sesuatu yang tertulis; suatu peristiwa, simbol, bunyi, perkataan, atau gestur, asalkan ia dapat ditafsirkan, juga termasuk dalam "teks". Sebagian besar esai dalam Simulakra Sepakbola dibangun dengan kerangka intertekstualitas. Selain tayangan sepakbola dan posmodernisme dalam Simulakra Sepakbola, Fergie dan Nietzsche dalam Hantu Sejarah Bernama Fergie, atau Rohhagel dan William James dalam Pragmatisme Sepakbola..., masih terdapat banyak contoh lain untuk menunjukkan intertekstualitas itu. 

Zen membahas sepakbola sebagai alat kontrol politik dalam Kolonialisme dari Lapangan Hijau. Ada pula pembahasan tentang perilaku "makan pisang di lapangan" Dani Alves yang dianalisis dengan teori poskolonialisme Homi Bhabha dalam Melawan Rasialisme dengan Mimikri. Kemudian, pada Grand-Jete ala Maradona, bisa-bisanya Zen meninjau gerakan "lompatan besar" yang dilakukan Maradona saat Argentina  melawan Inggris di perempatfinal Piala Dunia 1986, dengan membandingkannya dengan salah satu gerakan tari balet bernama "grand-jete"! 

Dengan bermain-main di arena intertekstualitas itu, Zen berhasil menawarkan cara pembacaan dan penafsiran yang sama sekali baru terhadap fenomena sepakbola. Dengan pendekatan demikian, fenomena sepakbola dapat dilepaskan dari belenggu eksklusivitasnya (hanya dapat dipahami oleh "anak-anak bola"), menjadi suatu fenomena sosio-kultural yang dapat dipandang, ditelisik, dan dianalisis berdasarkan perspektif apa pun, serta dinikmati oleh siapa pun.

*** 

Demikianlah beberapa pelajaran tentang penulisan esai yang dapat saya ambil dari Simulakra Sepakbola. Sebab keterbatasan pengetahuan dan ketelitian, pasti ada poin-poin penting yang terlewat dari pengamatan saya. Juga, saya hanya membahas sebagian kecil saja dari seluruh esai dalam Simulakra Sepakbola; saya mengambil beberapa esai yang menjadi simpul-simpul untuk menjelaskan poin-poin yang saya sampaikan dalam tulisan ini.  

Tulisan ini hanyalah refleksi dari Simulakra Sepakbola. Saya sangat menyarankan Anda untuk membaca langsung Simulakra Sepakbola demi mendapatkan pengalaman yang utuh-seluruh dan tidak parsial. Barangkali, ada pula hal-hal berharga yang ingin anda bagi setelah tamat membacanya. 

(Gambar di kepala tulisan diambil dari blog Stand Buku)

No comments:

Post a Comment