Tentang

Tuesday, July 30, 2013

beranjak


Hembusan bisik samar dari ujung cakrawala yang membutakan telinga. 
Pijaran semburat sinar dari perut ufuk yang memekakkan mata. 
Pengap menyergap kilat pada akhir sembap. 
Sesak dada yang meruah-ruah mau pecah.
Merangkak keluar dari hingar, merengkuh malam meski segenggam.
Mengendap dalam-dalam.

Hari sudah habis dan memang kesah itu akan selalu ada.

-dalam relung, pukul 00.14 pagi. Beranjak dari k e b a n a l a n.

*gambar diambil dari http://farm4.staticflickr.com/3434/3314903921_e0ee2ee489_z.jpg

Monday, July 15, 2013

jalan sepi dalam pendar


Dingin. Sedingin jalan yang menyusut di pinggir sepi, saat kau berpendar lemah dalam kejauhan. Bentukan harapan yang pelan-pelan beranjak samar, hingga kegelapan melambar. Ia mengendap dengan jelas, terlalu jelas, di sekujur tepian ruang dingin yang kau tinggalkan. Pada setiap malam di pengakhiran. Pada setiap gemericik pagi, sebuah cengkrama yang mengawali. Tak kau sadari, ia selalu mengikutimu, dalam diam. Menggamit keluh yang diredam, merengkuh peluh yang dipendam. Semua yang terlambat untuk dikisahkan. Semua yang kau jadikan silam. Memeram penat hingga jatuh terpejam. Malam sudah mau habis dan anggap saja kesah ini tidak pernah ada.

-dalam relung, pukul 01:47 pagi. Diantara kebanalan.


*gambar diambil dari http://pcdn.500px.net/38616242/65f0dbaebaf1aa3cde6ff9b8882dc2f72d6cb041/3.jpg

Wednesday, May 29, 2013

untuk ibu dan bapak yang digusur tadi pagi




 "Jika kau menghamba kepada ketakutan, kita memperpanjang barisan perbudakan" - Wiji Thukul

untuk ibu dan bapak
yang digusur tadi pagi
kami yakin
ibu dan bapak lebih berani dari kami.

untuk ibu
yang menangis di koridor kios
yang membuat saya berkaca-kaca
yang membuat saya tak mampu melihat
dan memalingkan pandangan.

Monday, May 13, 2013

anggap saja sebagai refleksi

usia sekarang berusia 19
tahun depan 20
depannya lagi 21
sampai 50, 60, 70, 80, 90, 100
sampai kapanpun ia mungkin berhenti.

usia kemarin belajar berjalan
belajar menelan
menunggu makan
menangis pelan
mencari peran
lalu pandai berjalan.

usia lalu berpikir
tentang hari-harinya di pinggir
kejatuhan yang getir
juga kemenangan yang hadir
atau kesenyapan yang mampir
bahkan riuh yang menyingkir.

usia kemudian uzur
mencoba menghitung mundur
mengendurkan syaraf yang kendur
menjahit ingatan yang teratur
yang membujur dengan umur.

usia kemudian diam
tenang
bijak
lembut
puas
penuh
dan memendam.

-ditulis pukul 00.50 hari Senin tanggal 13 Mei 2013, tepat seminggu setelah bertambah usia. Anggap saja sebagai tulisan penanda untuk dibaca kembali sekian tahun lagi. Semoga pada "sekian tahun" tersebut, si "usia" bisa menulis refleksi yang berbeda dengan si "19" ini.

Wednesday, May 1, 2013

bulan sabit : perpisahan


bulan sabit mengayun di kubah malam yang berembun
helaan ayun itu pelan-pelan menggaris sebentuk senyum
senyum kecil namun tak habis-habis hingga malam tiris.

bulan sabit kemudian mengendap di lengkungan
ia merindukan sisa tubuhnya yang belum penuh
bulan sabit memang mudah dilupakan
jika dibandingkan dengan kakaknya, si bulan penuh.

di pucuk malam, ia merenung
kemudian goyah menggelinding ke bawah.

di ujung malam, ia berbaris tegap
lalu menyisihkan napas paginya yang gerah.

di pelataran pagi
bulan sabit mengayuh malam menuju subuh.

*gambar diambil dari http://farm1.staticflickr.com/5/4585883_65d08ee9a0.jpg

Saturday, April 13, 2013

seorang perempuan muda yang mendefinisikan neraka


seorang perempuan muda menyelipkan secarik surat dalam tangannya.
surat itu telah terbuka;
nampaknya ia merekatkan surat itu dengan segaris tipis darah.
di dalam surat itu berkumpul sekelompok pusara dan setumpuk nisan.
mereka diam-diam mendesis:

"neraka tidak serumit dan sekejam yang kau bayangkan.
 kau telah melewatinya berkali-kali.
 hidupmu, mungkin saja, adalah salah satunya."


*gambar diambil dari http://1.bp.blogspot.com/-lZ-7gvtJ01E/UTdhcp_SRxI/AAAAAAAAB80/HFVqb-TX094/s1600/hauntednorthamerica.jpg

Thursday, April 11, 2013

Haven't I taught you anything?

"Ahesta boro, Mah-e-man, ahesta boro.

Go slowly, my lovely moon, go slowly.


Boot heels clicked on asphalt. Someone flung open the tarpaulin hanging over the back of the truck, and three faces peered in. One was Karim, the other two were soldiers, one Afghan, the other a grinning Russian, face like a bulldog's, cigarette dangling from the side of his mouth. Behind them, a bone-colored moon hung in the sky. Karim and the Afghan soldier had a brief exchange in Pashtu. I caught a little of it--something about Toor and his bad luck. The Russian soldier thrust his face into the rear of the truck. He was humming the wedding song and drumming his finger on the edge of the tailgate. Even in the dim light of the moon, I saw the glazed look in his eyes as they skipped from passenger to passenger. Despite the cold, sweat streamed from his brow. His eyes settled on the young woman wearing the black shawl. He spoke in Russian to Karim without taking his eyes off her. Karim gave a curt reply in Russian, which the soldier returned with an even curter retort. The Afghan soldier said some thing too, in a low, reasoning voice. But the Russian soldier shouted something that made the other two flinch. I could feel Baba tightening up next to me. Karim cleared his throat, dropped his head. Said the soldier wanted a half hour with the lady in the back of the truck.


Sunday, March 31, 2013

...

"Apa yang ditakutkannya? Bukan rasa takut atau ngeri. Tapi perasaan hampa yang telah lama merundungnya. Kehampaan tak berkesudahan dan manusia juga hampa. Tak lebih dari itu dan cahaya, itulah hanya yang diperlukan untuk menghilangkannya, dan juga kebersihan dan kerapian. 

Ada orang yang menjalani kehidupan hampa itu setiap hari, namun tak pernah merasakannya, tetapi sebenarnya dia tahu itu kehampaan dan kemudian kehampaan dan kehampaan dan kemudian kehampaan. Kehampaan kami yang ada di dalam kehampaan, hampalah namaMu, hampalah kerajaanMu, hampalah kehendakMu, diatas kehampaan seperti didalam kehampaan. 

Berilah kami kehampaan kami setiap hari dan hampakanlah kehampaan kami seperti kamipun menghampakan mereka yang menghampakan kami dan selamatkanlah kami dari kehampaan; kemudian hampa. Salam kehampaan penuh kehampaan, kehampaan bersama engkau."
-dikutip dari cerita pendek Ernest Hemingway, Tempat yang Bersih dan Terang (A Clean, Well-Lighted Place).

Monday, March 25, 2013

sembuh yang menitik lembut


pagi yang jernih mengetuk suruk hatimu yang dingin
ia pelan-pelan menyusup disana; memendar seperti lentera
dengan hati-hati ia berbisik kepada kabut
untuk pergi pada rimbunan yang meneduhkan kelung.

air yang bening seperti cahaya kemudian terdiam
ia tersipu disana seperti seduhan teh tengah malam
ia mengalirkan dekap santun yang menadahi keluhmu
dan mengucap salam ketika sakitmu telah luruh.

pagi yang sama menegurku senja ini
ia mengulurkan tangannya
dibeningkan cahaya yang mengendur halus
lalu menghembus luka di relung hariku
dan mengobatinya dengan hujan yang menitik lembut.

semoga pagi yang sama menyembuhkan duka-dukamu esok hari.

Thursday, March 14, 2013

epilog


kembali terpaku didepan kehampaannya yang maha
sekujur peluh mengarus lemah sampai rendah
beban di kepala memaksaku menanggalkannya untuk sementara,
sementara aku dapat bernafas sedikit lega 
dengan sisa katup hirup yang sudah tak seberapa
aku melangkah berat ditemani seiring lamat
menggamit gelapmu yang terserak,
mungkin kau mau ikut barang sejenak?

*gambar diambil dari http://i1.trekearth.com/photos/20889/sdroga1b.jpg

Tuesday, February 26, 2013

an apparent fracturing


i stand against the sharp glance of the restless sun, crippled.
the perennial flare from which we get burnt every single day, fractured. 
my vague cognizance is already drowned in stagnant wells, shattered.

Sunday, February 10, 2013

lelaki renta dan kerentaannya.


I
bersamaan dengan kelu di lidahnya, ia mulai mengucap racau.
berputar semisal kelebat abu dalam labirin yang redup sengau.
orang renta di ujung umur ini lalu mengumpat pada senyumnya.
senyuman yang pasti membuat kau ragu dalam pengartiannya.

II
tanpa peringatan ia tiba tiba meludah darah, merah darah.
tumitnya gamang, seakan tumpuannya melemah remang.
lalu kau melihatnya mulai berdiri susah payah, lemah.
satu, dua, tiga. dan ia jatuh ke tanah. rebah dan kalah.

III
tanah kering itu jadi teduh.
pak tua tersengguk dalam alir tangisnya,
alir yang memanggilnya jauh ke masa ketika ia
belum lemah,
belum rebah,
belum kalah. 



*gambar diambil dari http://fc09.deviantart.net/fs70/f/2012/089/a/1/a127d70a0df5f650baff0a8346d5d679-d4uf0sr.jpg