Tentang

Friday, December 7, 2012

emang, segitunya ya?

Sudah jam 12.19 pagi. Baru saja balik ke kosan dari acara diskusi tentang korupsi di FISIP, yang salah satu pengisi acaranya adalah Sujiwo Tejo. Di acara diskusi ini, Sujiwo selain menjadi pembicara tapi juga mendalang dengan lakon tentang korupsi.

Dari semua babak wayang, saya masih kepikiran tentang satu babak yang ceritanya tentang obrolan dua orang tokoh wayang, dua orang laki laki. Laki-laki yang satu jadi bos proyek dan yang satunya lagi jadi bawahannya. Ceritanya dua orang ini mau korupsi dana pembangunan suatu jembatan, dengan celah ngakal-ngakalin material buat ngebangun jembatannya.

Ada beberapa line pembicaraan yang masih ngebekas di pikiran saya sampe sekarang. Di babak ini, si wayang satu - bos proyek - ngehasut wayang yang satunya - bawahan bos proyek - buat ngikutin rencana dia buat korupsi. Nah, si bawahan ini pada awalnya menolak ajakan si bos proyek dengan dalih ahw ayang bakal mereka lakuin itu perbuatan korupsi, perbuatan yang haram dilakukan karena merugikan orang banyak.



Disini ada line obrolan yang lumayan provoking menurut saya. Si bos proyek dengan sinis ngejawab kurang lebih gini, "ah kamu kayak gitu, sok sok berpikiran mahasiwa aja. Kayak mahasiswa semester satu kamu. mereka belum tau kehidupan! Mereka belum pernah kan, ngerasain gimana bingungnya nyari nafkah? Mereka belum pernah kan, ngalamin gimana pusingnya kalo anak istri sakit? Belum tau kehidupan mereka!". Kira kira gitu sih ya percakapannya, ga persis kayak gitu tapi pokok ceritanya kurang lebih sama.

Saya sebagai mahasiswa hukum semester pertama, kayak "tercolek" dengan omongan si bos proyek ini. Apa bener ya segitunya pengaruh perubahan hidup dan bertambahnya umur sama, ya, anggaplah "pendirian". Segitu besarnya kah pengaruh kepentingan, kebutuhan, keluarga dan segala macem variabel yang memungkinkah perubahan "pendirian" itu sendiri?

Saat menulis tulisan ini, saya menganggap bahwa gua sendiri tidak sedang habis habisan mempertahankan atau memperjuangkan nilai nilai yang saya yakini dan saya pegang. Kehidupan berjalan sebagaimana semestinya dan berjalan baik baik saja. Saya bener bener sedang ada di dalam keadaan yang aman aman aja sih kalo bisa dibilang.

Kalo ada orang bilang "kamu gak bakal selamanya bisa terus menantang dan menentang, ada saatnya nanti ketika kamu harus tersadar dan mulai berdamai dengan keadaan". Emang, segitunya ya?

---

Tulisan ini saya buat pada Desember 2012, kala itu saya masih mahasiswa semester pertama. Siang ini, 3 Januari 2015, disponsori oleh kegabutan liburan akhir tahun yang mahadahsyat, saya iseng baca tulisan-tulisan lama dan beigtulah, tulisan ini kembali saya runut. Ada poin-poin dalam tulisan ini yang ingin saya tanggapi (kembali). Sekarang saya sudah (hampir masuk) semester 6, berarti sudah lewat dua tahun sejak pertama kali tulisan ini dibuat. Dua tahun berjalan, banyak yang saya lewati dan jalani. Dua tahun berjalan dengan momen gelap dan terang nya masing-masing. Di tulisan ini, saya menemukan diri saya yang naif, bebal dan keras kepala. Dua tahun berjalan, saya masih belum juga menemukan jawaban atas pertanyaan yang dulu saya betikkan di ujung tulisan. Mungkin masih butuh waktu yang demikian panjang hingga saya mampu memberikan jawaban pada pertanyaan saya sendiri itu.

Dua tahun telah berlalu, dan, sial, saya masih memilih menjadi naif, bebal dan keras kepala. 

(2015, remembrans 2012)

No comments:

Post a Comment